Bengkok?

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Tulisan ini didedikasikan untuk memberikan penjelasan yang berupa hasil renungan dan kesimpula penulis kepada pembaca agar in sya Allah dapat menambah keimanan dan kepahaman pembaca tentang agama ini (Islam) melalui Al-Qur’an  yang aziz agar dapat berbuah amal dengan menginternalisasikan makna-maknanya. Tulisan ini hanya membahas sedikit dari surah Al-Kahf, surah ke-15 dalam AL-Qur’an, yakni ayat pertama

o   Pendahuluan
Terjemahan dari ayat pertama surah Al-Kahf berbunyi:

“Segala puji bagi Allah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok,”

Allah SWT secara khusus telah menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW untuk kemudian disampaikan kepada seluruh umat manusia dengan beragam kepercayaannya. Setelah wafatnya beliau SAW, peran untuk menyampaikan wahyu-wahyu Allah SWT (berdakwah) telah diwariskan kepada seluruh umat beliau dari generasi awal sampai sekarang dan seterusnya sampai waktu yang ditentukan oleh Allah SWT.
Allah SWT tidak menjadikan Al-Qur’an ini bengkok mengandung pengertian bahwa tidak ada dalam Al-Qur’an makna yang berlawanan dan tidak ada penyimpangan dari kebenaran. Jadi, kesemua isi dari Al-Qur’an saling mendukung satu sama lain sehingga ketika menafsirkan sebuah ayat, para ahli tafsir menggunakan ayat-ayat yang lain yang memiliki kaitan dengan ayat yang hendak ditafsirkan.

o   Permasalahan
Tiap zaman mempunyai wajah masing-masing. Zaman sekarang dengan zaman sebelumnya meliki karakteristik tersendiri, mulai dari norma-norma yang berlaku, teknologi yang digunakan, dan seterusnya. Zaman dahulu di Indonesia (Nusantara), belum ada yang namanya pacaran. Kalau tidak dijodohkan oleh orang tua yang telah bersepakat, ada seorang makjomblang yang menjadi perantara untuk dapat menemukan jodoh. Sekarang, tidak harus ketika malam minggu, dapat ditemukan pasangan-pasangan unofficial yang sedang menikmati waktu mereka di taman, kafe,  maupun di rumah makan. Obrolan mereka seringkali penuh canda dan tawa. Jarang ada yang serius untuk mendiskusikan hubungan rumah tangga yang islami, seperti bagaimana nanti pembentukan karakter anak mereka agar dapat berakhlaqul karimah. Itulah tipu daya Syaitan. Di mana ada laki-laki dan perempuan yang berduaan, syaitanlah orang ketiga yang mencoba menambahkan bumbu dalam pikiran kita melalui bisikannya. Tapi, hal itu bukan berarti Islam melarang interaksi beda jenis yang merupakan pokok bahasan pada artikel yang lain.

Sedih rasanya, bila kita menyaksikan akhwat-akhwat kita yang dahulu pernah terlihat berjilbab dengan rapi bahkan syar’i, harus melepas semua itu dan menggantinya dengan berbusana yang menampakkan berbagai bentuk dari tubuhnya. Alasannya? Mengikuti trend, Islam kurang gaul, malu, belum dapat pencerahan hati, dan sebagainya.

Ayat ini menjawab permasalahan yang tadi sudah disebutkan bahwa Islam adalah jalan yang lurus. Islam adalah ideologi yang prinsip-prinsipnya kekal sampai hari kiamat dimana berbagai pemikiran-pemikiran menerjang generasi yang baru lahir dari rahim bangsa ini. Bagaikan pohon yang kokoh dan akar-akarnya menancap jauh di dalam bumi, yang senantiasa harus kita berpegang kepadanya ketika diri kita tidak ingin terseret arus banjir yang begitu deras bahkan mematikan.

Akan tetapi, Islam tidak tertutup pada perubahan, melainkan mendorong agar terjadinya perubahan ke arah yang positif dan membangun. Sekali lagi ideologi Islam tetap sama, tapi produk dari ideologi ini memiliki beragam bentuk, sesuai dengan konteks zaman dimana dirinya berada. Dasar Negara kita, Pancasila, misalnya dapat dijadikan percontohan. Tiap negara harus memiliki dasar negara masing-masing, agar dapat diakui identitas negaranya. Pancasila muncul sebagai representasi negara kita, sebagai akibat dari manifestasi pemikiran orang-orang Indonesia yang religius, nasionalis, dan berbudaya. Nilai-nilai pada Pancasila tidak ada  yang bertentangan dengan Islam sehingga dapat diterima oleh bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah beragama Islam yang tentunya sudah paham akan prinsip-prinsip dari agama itu sendiri. Dapat dikatakan bahwa Pancasila adalah produk dari nilai-nilai Islam.

o   Kesimpulan
Kepada para akh di luar sana yang sedang menghadapi tantangan dalam berislam, maupun yang hanya ikut-ikutan saja, sesungguhnya Islam memiliki identitas tersendiri yang membedakannya dari pemikiran-pemikiran yang lain, sehingga sebagai kita sebagai pemeluknya, haruslah bangga dengan petunjuk yang diberikan oleh Allah kepada kita. Janganlah merasa risau dengan pandangan orang lain mengenai pakaian kita yang selalu menutup aurat. Kita tidak berpakaian untuk dilihat indah oleh mereka, melainkan untuk dilihat oleh Yang Maha Melihat, bahwa kita senantiasa tunduk dan patu terhadap ketetapan-Nya dan senantiasa mengharapkan perjumpaan dengan-Nya di akhirat nanti.  Wallahu a’lam


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gangguan (noise) dalam Proses Komunikasi

Rusty (Law Abiding Citizen 2009 review)

Layar Super Dari ASUS OLED: Level Up Jadi Content Creator