Tiga-Te

Di dalam Islam, terdapat tiga proses yang perlu dilalui oleh seseorang agar dapat “mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. Saya menyebut tahapan-tahapan itu “Tiga-T”. “T” yang pertama adalah “ta’aruf”. “T” yang kedua adalah “tafahum”. “T” yang terakhir adalah “ta’awun”.

Ta’aruf
Tak kenal maka …? Tak keplak! Begitu kata salah seorang ustaz saya dulu. Alasannya kira-kira seperti ini: wong gak kenal kok sok kenal (mencurigakan)!
Ta’aruf adalah tahap awal dari mengenal seseorang. Kita hanya bisa melihat dari luarnya saja. Sebatas tahu namanya, pekerjaannya, dan tampilannya saja. Hanya yang dia tampakkan di permukaan. Sebelum menikah, dilakukan proses ta’aruf. Saling mengenal dulu. Baru ketika sudah memulai kehidupan berumah tangga, akan tampak lebih dari apa yang sebelumnya diketahui.

Tafahum
Umar RA pernah berbincang dengan seorang lelaki yang memuji si fulan dengan mengatakan bahwa dia adalah orang yang baik. Lantas, Umar pun bertanya apakah dia pernah bepergian dengan si fulan itu?Belum …. Apakah dia pernah bermuamalah dengan si fulan? Belum juga …. Apakah si fulan itu pernah dia beri amanah? Belum lagi …. Umar pun berkata, “Kalau begitu, kamu belum punya ilmu tentangnya. Barangkali kamu hanya melihat dia solat di masjid.”
Memahami (tafahum) adalah tahapan dimana diri kita mengetahui sifat asli dari seseorang. Kita tahu dia suka makanan apa. Dia alergi terhadap apa. Apa yang tidak dia sukai dan apa yang tidak dia benci. Dengan pahamnya diri kita atas karakter seseorang, mudah untuk bisa memprediksi reaksinya serta memberikan pengaruh terhadapnya. Sebagai seseorang yang sudah paham akan kawannya itu, dia dituntut untuk bisa menasihatinya jika ada suatu kesalahan yang dia lakukan.

Ta’awun
Saling tolong-menolong. Intinya ya itu. Kita rela menolongnya karena kita memahami kesulitannya, mengenalnya, dan yang paling utama kita melakukannya atas dasar cinta kepada saudara kita yang se-iman yang didasari pula oleh cinta kita yang besar kepada Allah dan pengharapan atas ridho-Nya.
Dengan Tiga-T itu, dapat terwujud sifat tertinggi dari ukhuwwah (persaudaraan) yaitu sifat itsar. Apakah itsar itu?
“… dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan …” (Al-Hasyr: 9)
Berdasarkan ilustrasi mengenai kedatangan rombongan Muhajirin di Madinah yang disambut baik oleh penduduknya (Anshor) yang dilukiskan oleh Al-Quran, itsar adalah mementingkan urusan orang lain, sekalipun urusannya sendiri juga penting. Inilah tingkat persaudaraan tertinggi di dalam Islam. Seorang Muslim yang rela berkorban demi saudaranya yang membutuhkan, padahal diri sendiri juga membutuhkan … subhanallah. Semoga kita bisa menjadi dari golongan orang-orang yang demikian. Wallahu a’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gangguan (noise) dalam Proses Komunikasi

Rusty (Law Abiding Citizen 2009 review)

Layar Super Dari ASUS OLED: Level Up Jadi Content Creator