Ujian ... untuk Kita Semua
"Wahh ... enak banget ya dia. Rumah minimalis, mobil punya, istri cantik, banyak relasi ... nikmat ya."
"Kasihan dia ... rumahnya sempit, dekat dengan selokan--nyamuk! Belum beristri, temannya sama saja ... ujian yang berat nih."
Orang #2 dilanda ujian. Dia harus bertarung dengan pasukan nyamuk, menyiapkan strategi menghalau banjir, bersiap-siap melamar dengan belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya, dan menghadapi teman-temannya yang sama kerasnya seperti dia. Huhhh.
Orang #1? Enak ya. Serba mudah. Serba indah. Serba cukup. Tidak berasa ujian ...
"Maka, apabila manusia ditimpa bencana dia menyeru Kami, kemudian apabila Kami memberikan nikmat Kami kepadanya dia berkata, 'Sesungguhnya, aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku.' Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."
(Az-Zumar: 49)
Segalanya berasal dari Allah, kenikmatan berupa kemudahan, bencana berupa kemiskinan, dan seterusnya. Bencana dan nikmat, sebagaimana dalam ayat ke-49 surah Az-Zumar, adalah ujian. Ujian untuk melihat sikap manusia terhadap Allah (melupakan atau menyalahkan) dan respon berupa amal perbuatan mereka selanjutnya.
Apa yang tampak berwujud kesulitan, memang wajar bila dianggap dia sedang diuji. Jika yang tampak adalah kenikmatan? Tidak sedikit yang terkecoh.
Orang #1 sedang diuji. Harta yang dia belanjakan untuk apa? Sadarkah dia bahwa ada hak-hak Allah di dalam harta miliknya itu? Sudahkah dia bersikap baik dengan istrinya. Senantiasa menjaganya. Tidak membiarkannya terjerumus kepada yang negatif? Mobil yang dia pakai untuk ke mana saja? Benarkah waktu yang dia punya sudah menjadi efektif dengan hadirnya mobil itu? Relasi macam apa yang dia miliki? Apakah itu atas nama kebaikan atau hanya mencari tambahan uang sementara, agar uang bisa terus mengalir?
Wow. Demikian banyak yang diperhitungkan. Dia benar-benar harus berhati-hati. Karena nikmat yang dia dapat harus dipertanggung jawabkan nantinya. Apalagi bila kenikmatannya jauh lebih besar dari orang lain ...
" ... ya Tuhanku, anugerahkan aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."
(An-Naml: 19)
Ayat barusan adalah doa Nabi Sulaiman as. Nabi Sulaiman, yang kekayaannya oleh Allah dibuat tidak tertandingi. Dia telah diberi ilmu untuk berbicara dengan hewan, untuk mengendalikan angin, dan memerintahkan para jin. Namun demikian, perhatikan ayat ke-19 surat An-Naml. Bertambahnya nikmat yang diberika oleh Allah kepada dirinya, membuat Nabi Sulaiman lebih bersyukur. Lebih tunduk. Dia tidak lupa.
Maka dari itu, sikap Nabi Sulaiman ini sekiranya bisa menjadi teladan, agar tetap tidak lupa dengan Allah dan senantiasa bersyukur kepada-Nya atas nikmat-Nya yang semakin bertambah untuk hamba-hamba-Nya.
"Kasihan dia ... rumahnya sempit, dekat dengan selokan--nyamuk! Belum beristri, temannya sama saja ... ujian yang berat nih."
Orang #2 dilanda ujian. Dia harus bertarung dengan pasukan nyamuk, menyiapkan strategi menghalau banjir, bersiap-siap melamar dengan belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya, dan menghadapi teman-temannya yang sama kerasnya seperti dia. Huhhh.
Orang #1? Enak ya. Serba mudah. Serba indah. Serba cukup. Tidak berasa ujian ...
"Maka, apabila manusia ditimpa bencana dia menyeru Kami, kemudian apabila Kami memberikan nikmat Kami kepadanya dia berkata, 'Sesungguhnya, aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku.' Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."
(Az-Zumar: 49)
Segalanya berasal dari Allah, kenikmatan berupa kemudahan, bencana berupa kemiskinan, dan seterusnya. Bencana dan nikmat, sebagaimana dalam ayat ke-49 surah Az-Zumar, adalah ujian. Ujian untuk melihat sikap manusia terhadap Allah (melupakan atau menyalahkan) dan respon berupa amal perbuatan mereka selanjutnya.
Apa yang tampak berwujud kesulitan, memang wajar bila dianggap dia sedang diuji. Jika yang tampak adalah kenikmatan? Tidak sedikit yang terkecoh.
Orang #1 sedang diuji. Harta yang dia belanjakan untuk apa? Sadarkah dia bahwa ada hak-hak Allah di dalam harta miliknya itu? Sudahkah dia bersikap baik dengan istrinya. Senantiasa menjaganya. Tidak membiarkannya terjerumus kepada yang negatif? Mobil yang dia pakai untuk ke mana saja? Benarkah waktu yang dia punya sudah menjadi efektif dengan hadirnya mobil itu? Relasi macam apa yang dia miliki? Apakah itu atas nama kebaikan atau hanya mencari tambahan uang sementara, agar uang bisa terus mengalir?
Wow. Demikian banyak yang diperhitungkan. Dia benar-benar harus berhati-hati. Karena nikmat yang dia dapat harus dipertanggung jawabkan nantinya. Apalagi bila kenikmatannya jauh lebih besar dari orang lain ...
" ... ya Tuhanku, anugerahkan aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."
(An-Naml: 19)
Ayat barusan adalah doa Nabi Sulaiman as. Nabi Sulaiman, yang kekayaannya oleh Allah dibuat tidak tertandingi. Dia telah diberi ilmu untuk berbicara dengan hewan, untuk mengendalikan angin, dan memerintahkan para jin. Namun demikian, perhatikan ayat ke-19 surat An-Naml. Bertambahnya nikmat yang diberika oleh Allah kepada dirinya, membuat Nabi Sulaiman lebih bersyukur. Lebih tunduk. Dia tidak lupa.
Maka dari itu, sikap Nabi Sulaiman ini sekiranya bisa menjadi teladan, agar tetap tidak lupa dengan Allah dan senantiasa bersyukur kepada-Nya atas nikmat-Nya yang semakin bertambah untuk hamba-hamba-Nya.
Komentar
Posting Komentar