Pertanyaan Mendasar (purpose of life)

Orang-orang kebingungan. Mulai muncul pertanyaan-pertanyaan sederhana, tapi memerlukan jawaban yang sangat dalam. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apa tujuan hidup saya?” atau, “kenapa saya dilahirkan?” adalah beberapa contoh pertanyaan mendasar. Allah SWT menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di dalam Al-Quran. Bahkan, Allah menyebutkan  alasan hidup (tujuan hidup) dari orang-orang yang mewakili golongan-golongan yang berbeda. Ada golongan orang-orang yang beriman, orang-orang kafir, dan orang-orang munafik.
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Az-Zariyat: 56)

Sebelum masuk kepada golongan-golongan tadi, secara umum, Allah SWT menciptakan seluruh manusia, hanya untuk beribadah kepada-Nya. Barangkali ada yang bertanya, “Berarti, kita hanya sholat saja sampai mati?” orang yang berkata seperti itu, perlu memahami bahwa (1) Al-Quran tidak dapat dipahami hanya dengan satu ayat saja dan (2) kata “ibadah” lebih luas dari sekedar sholat.
Kata “liya’budu” berasal dari kata a’budu yang artinya beribadah. Kata a’budu berasal dari kata abd yang artinya budak. Berbeda dengan “sembah”. Seseorang bisa menyembah kemudian melakukan sekehendaknya, tetapi tidak sama dengan seorang budak. Seorang budak selamanya terikat dengan majikannya, sampai ia didebaskan.

Kalau begini, siapa yang mau masuk Islam? Manusia di hadapan Allah hanyalah budak! Dan budak, jika melihat sejarahnya, hampir selalu dianiaya! Lagi-lagi, ini adalah pandangan yang terlalu sempit. Di dunia ini, tidak ada sesungguhnya apa yang disebut “kebebasan mutlak”, kecuali untuk orang gila. Kita sebenarnya adalah budak terhadap sesuatu yang diri kita cenderung kepadanya. Misalnya, seseorang yang hanya mengandalkan otaknya adalah budak terhadap pikirannya/kecerdasannya. Dia hanya mengikuti pikirannya saja. Seseorang yang selalu berusaha cocok dengan teman-teman pergaulannya, meniru pakaian mereka, style mereka, dst., adalah budak terhadap sebuah kelompok sosial di masyarakat.

Dari pada menjadi “pengikut” (pakai kata budak mulu nggak enak rasanya ...) dari sesuatu yang tidak pasti dan hanya merupakan ciptaan belaka, mengapa tidak menjadi pengikut Allah SWT saja? Menjadi seorang muslim yang berpegang teguh kepada tali Allah (menjalankan syariat) akan membuatnya menjadi seorang mukmin dan membebaskannya dari menjadi budak terhadap ciptaan-ciptaan-Nya. Kaum Quraish ketika datangnya Islam, tahu bahwa Allah adalah rabb mereka. Namun, mereka mengikuti nenek moyang mereka dengan menyembah berhala. Karena menjadi pengikut setia para leluhur mereka, hati, penglihatan, dan pendengaran kaum Quraish tertutup (Al-Baqarah: 7). Selain menjadi pengikut nenek moyang, mereka juga enggan karena di dalam Islam, seluruh manusia di hadapan Allah adalah sama. Tidak membedakan yang kaya dan miskin, dst. Orang-orang Quraish (terutama para pembesarnya) tidak sudi bila harus menyamakan derajatnya dengan orang-orang miskin, apalagi dengan budak. Mereka terbutakan oleh kesombongan dan keangkuhan. Mereka menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhan (ilah) mereka.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya ...” (Al-Jasiyah: 23)

Orang-orang munafik sedikit berbeda. Mereka adalah golongan yang penuh dengan tipu muslihat. Jika bersama orang-orang mukmin, mereka tampil sebagai pendukung, namun jika mereka kembali kepada orang-orang kafir, mereka tampil sebagai musuh orang-orang muslim.

“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Tetapi, apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.’” (Al-Baqarah: 14)

Orang-orang munafik hanya mencari keselamatan untuk dirinya di dunia. Jika umat Muslim terlihat lemah dan tampak seakan-akan kalah, mereka tidak bersabar bersama umat, melainkan bersama dengan orang-orang kafir yang terlihat kuat dan memiliki peluang menang.

Kembali kepada makna ibadah. Ibadah adalah semua perbuatan yang disukai oleh Allah. Demikian kata guru saya dahulu (belum sempat cari hadis). Ada ibadah yang diperintahkan sehingga bersifat mengikat (wajib), seperti sholat, zakat, dst., dan ada pula yang dianjurkan (sunnah) seperti mengucapkan salam kepada saudara seiman, dst.  Untuk yang sunnah ini, rugi bila tidak diamalkan. Jadi, tujuan hidup seorang muslim adalah untuk berbuat apa yang disukai oleh Allah SWT. Apa yang disukai oleh Allah SWT ini pun beragam bentuknya, bahkan terdapat prioritas-prioritas yang menjadi tuntutan. Tetapi, itu masuk ke pembahasan yang lain. Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat, mohon maaf telat upload, wassalam.

Foto: Pexels/Pixabay

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gangguan (noise) dalam Proses Komunikasi

Rusty (Law Abiding Citizen 2009 review)

Layar Super Dari ASUS OLED: Level Up Jadi Content Creator